SATUAN
ACARA PENYULUHAN (SAP) TBC
Bidang
studi : Penyakit Dalam
Topik : TBC
Sub
Topik : Penanganan TBC
Sasaran : Mahasiswa PSIK VB
STIKES AISYIYAH YOGYAKARTA
Hari/Tanggal : Selasa/ 28 Desember 2010
Jam : 13.00 wib
Waktu : 20 menit
Tempat : Balai serangan
Ngampilan Ykt
A. Latar belakang masalah
Di Indonesia salah satu penyakit
yang ditakuti pada abad ke-19, TBC adalah penyebab nomor 8 kematian anak usia 1
hingga 4 tahun pada tahun ’20- Berdasarkan data dari WHO tahun 1993 didapatkan
fakta bahwa sepertiga penduduk Bumi telah diserang oleh penyakit TBC. Sekitar 8
juta orang dengan kematian 3 juta orang pertahun. Diperkirakan dalam tahun
2002-2020 akan ada 1 miliar manusia terinfeksi, sekitar 5-10 persen berkembang
menjadi penyakit dan 40 persen yang terkena penyakit berakhir dengan
kematianan.
Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit
lama, namun sampai saat ini masih belum bisa dimusnahkan. Jika dilihat secara
global, TBC membunuh 2 juta penduduk dunia setiap tahunnya, dimana angka ini
melebihi penyakit infeksi lainnya. Bahkan Indonesia adalah negara terbesar
ketiga dengan jumlah pasien TBC terbanyak di dunia, setelah Cina dan India.
Sulitnya memusnahkan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium
tuberculosis ini disebabkan oleh beberapa hal. Diantaranya adalah munculnya
bakteri yang resisten terhadap obat yang digunakan. Karena itu, upaya penemuan
obat baru terus dilakukan.
B. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU)
Setelah mengikuti kegiatan
penyuluhan diharapkan ibu dapat menginformasikan dan mengetahui tentang penyakit TBC sehingga dapat menjaga
kesehatan dan lingkungan sekitar.
C. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIM)
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan diharapkan mahasiswa
dapat menjelaskan kembali :
1.
Pengertian
TBC
2.
Proses
penularan TBC
3.
Gejala –
gejala TBC
4.
Pengobatan
TBC
D. STRATEGI PELAKSANAAN
Strategi yang digunakan dalam
penyampaian penyuluhan ini berupa
1. ceramah dan
2. Tanya jawab.
E. DRAFT RENCANA PROSES PELAKSANAAN
|
NO
|
Waktu
|
Kegiatan Penyuluhan
|
Kegiatan Peserta
|
|
1
|
2 Menit
|
Pembukaan :
·
Memberi
Salam
·
Menjelaskan
tujuan Pembelajaran
·
Menyebutkan
materi/pokok bahasan yang akan disampaikan
|
- Menjawab Salam
- Mendengarkan dan
Memperhatikan
|
|
2
|
10 Menit
|
Pelaksanaan :
§ Menjelaskan materi penyuluhan
secara berurutan dan teratur
|
- Menyimak dan memperhatikan
|
|
Materi :
1. Pengertian TBC
2. Proses penularan TBC
3. Gejala – gejala TBC
4. Pengobatan TBC
|
-Menyimak dan memperhatikan
|
||
|
3
|
6 Menit
|
Evaluasi :
-Meminta saudara menjelaskan atau
menyebutkan kembali :
1. Pengertian TBC
2. Gejala – gejala TBC
-Memberikan pujian atas
keberhasilan ibu menjelaskan pertanyaan dan memperbaiki kesalahan,serta menyimpulkan.
|
-Bertanya,dan menjawab pertanyaan
|
|
4
|
2 Menit
|
Penutup :
-Mengucapkan terimakasih dan
mengucapkan salam
|
-Menjawab salam
|
F.
MEDIA PENYULUHAN
Media
Penyuluhan yang digunakan:
1.
Materi SAP
2.
Power Point
Presentation
G.
METODE EVALUASI
a.
Metode Evaluasi : Tanya jawab
b.
Jenis Evaluasi : Lisan
H.
KRITERIA
EVALUASI
1.
Masyarakat mampu menjelaskan dan memahami pengertian
TBC.
2.
Masyarakat mengetahui dan memahami bagaimana proses
penularan TBC.
3.
Masyarakat mahami dan mengetahui bagaimana gejala –
gejala yang ditimbulkan dari penyakit TBC
4.
Masyarakat mengetahui cara pencegahan yang tepat dan
benar terhadap penyakit TBC.
I.
MATERI
1.
Pengertian TBC
2.
Proses
penularan TBC
3.
Gejala –
gejala TBC
4.
Pengobatan
TBC
Yogyakarta, 1
Desember 2010
Ketua kelas B semester V Penyuluh
(SUJIAH) (Nova adeliana)
Mengetahui,
Pembimbing
Mata Kuliah
(Drs. Sugiyanto, A.Md. Kep., M.
Kes.)
J. MATERI
TBC/Tuberkulosis
1.
Pengertian
TBC/Tuberkulosis
Tuberkulosis (TBC atau TB)
adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mikobakterium
tuberkulosa. Bakteri ini merupakan bakteri basil yang sangat kuat sehingga
memerlukan waktu lama untuk mengobatinya. Bakteri ini lebih sering menginfeksi
organ paru-paru dibandingkan bagian lain tubuh manusia.
Insidensi TBC dilaporkan
meningkat secara drastis pada dekade terakhir ini di seluruh dunia. Demikian
pula di Indonesia, Tuberkulosis / TBC merupakan masalah kesehatan, baik dari
sisi angka kematian (mortalitas), angka kejadian penyakit (morbiditas),
maupun diagnosis dan terapinya. Dengan penduduk lebih dari 200 juta orang, Indonesia
menempati urutan ketiga setelah India dan China dalam hal jumlah
penderita di antara 22 negara dengan masalah TBC terbesar di dunia.
Hasil survei Kesehatan
Rumah Tangga Depkes RI tahun 1992, menunjukkan bahwa Tuberkulosis / TBC
merupakan penyakit kedua penyebab kematian, sedangkan pada tahun 1986
merupakan penyebab kematian keempat. Pada tahun 1999 WHO Global Surveillance
memperkirakan di Indonesia terdapat 583.000 penderita Tuberkulosis / TBC baru
pertahun dengan 262.000 BTA positif atau insidens rate kira-kira 130 per
100.000 penduduk. Kematian akibat Tuberkulosis / TBC diperkirakan menimpa
140.000 penduduk tiap tahun.
Jumlah penderita TBC
paru dari tahun ke tahun di Indonesia terus meningkat. Saat ini setiap menit
muncul satu penderita baru TBC paru, dan setiap dua menit muncul satu penderita
baru TBC paru yang menular. Bahkan setiap empat menit sekali satu orang
meninggal akibat TBC di Indonesia.
Kenyataan mengenai
penyakit TBC di Indonesia begitu mengkhawatirkan, sehingga kita harus waspada
sejak dini & mendapatkan informasi lengkap tentang penyakit TBC .
2.
Proses
Penularan TBC
Sumber
penularan adalah dahak penderita TBC yang mengandung kuman TBC. TBC menular
melalui udara bila penderita batuk, bersin dan berbicara dan percikan dahaknya
yang mengandung kuman TBC melayang-layang di udara dan terhirup oleh oranglain.

Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan
bakteri Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC
batuk, dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC
dewasa. Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan
berkembang biak menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan tubuh
yang rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah
bening. Oleh sebab itulah infeksi TBC dapat menginfeksi hampir seluruh organ
tubuh seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar
getah bening, dan lain-lain, meskipun demikian organ tubuh yang paling sering
terkena yaitu paru-paru.
3.
Gejala
– gejala TBC
Gejala penyakit TBC dapat dibagi menjadi gejala
umum dan gejala khusus yang timbul sesuai dengan organ yang terlibat. Gambaran
secara klinis tidak terlalu khas terutama pada kasus baru, sehingga cukup sulit
untuk menegakkan diagnosa secara klinik.
a. Gejala sistemik/umum
1)
Demam
tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari
disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan
bersifat hilang timbul.
2)
Penurunan
nafsu makan dan berat badan.
3)
Batuk-batuk
selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah).
4)
Perasaan
tidak enak (malaise), lemah.
b. Gejala khusus
1)
Tergantung
dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus
(saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang
membesar, akan menimbulkan suara "mengi", suara nafas melemah yang
disertai sesak.
2)
Kalau
ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan
keluhan sakit dada.
3)
Bila
mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada
suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada
muara ini akan keluar cairan nanah.
4)
Pada
anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai meningitis
(radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan
kesadaran dan kejang-kejang.
Pada
pasien anak yang tidak menimbulkan gejala, TBC dapat terdeteksi kalau diketahui
adanya kontak dengan pasien TBC dewasa. Kira-kira 30-50% anak yang kontak
dengan penderita TBC paru dewasa memberikan hasil uji tuberkulin
positif. Pada anak usia 3 bulan – 5 tahun yang tinggal serumah dengan penderita
TBC paru dewasa dengan BTA positif, dilaporkan 30% terinfeksi berdasarkan
pemeriksaan serologi/darah.
4.
Pengobatan
Penderita TBC
a. TAHAP PENCEGAHAN
Berkaitan dengan perjalanan alamiah
dan peranan Agent, Host dan Lingkungan dari TBC, maka tahapan
pencegahan yang dapat dilakukan antara lain :
1.) Pencegahan Primer
Dengan
promosi kesehatan sebagai salah satu pencegahan TBC paling efektif, walaupun hanya
mengandung tujuan pengukuran umum dan mempertahankan standar kesehatan
sebelumnya yang sudah tinggi.
Proteksi
spesifik dengan tujuan pencegahan TBC yang meliputi ; (1) Imunisasi
Aktif, melalui vaksinasi BCG secara nasional dan internasional pada daerah
dengan angka kejadian tinggi dan orang tua penderita atau beresiko tinggi
dengan nilai proteksi yang tidak absolut dan tergantung Host tambahan
dan lingkungan, (2) Chemoprophylaxis, obat anti TBC yang dinilai
terbukti ketika kontak dijalankan dan tetap harus dikombinasikan dengan
pasteurisasi produk ternak, (3) Pengontrolan Faktor Prediposisi, yang mengacu
pada pencegahan dan pengobatan diabetes, silicosis, malnutrisi, sakit kronis
dan mental.
2. Pencegahan Sekunder
Dengan
diagnosis dan pengobatan secara dini sebagai dasar pengontrolan kasus TBC yang
timbul dengan 3 komponen utama ; Agent, Host dan Lingkungan.
Kontrol
pasien dengan deteksi dini penting untuk kesuksesan aplikasi modern kemoterapi
spesifik, walau terasa berat baik dari finansial, materi maupun tenaga. Metode
tidak langsung dapat dilakukan dengan indikator anak yang terinfeksi TBC
sebagai pusat, sehingga pengobatan dini dapat diberikan. Selain itu,
pengetahuan tentang resistensi obat dan gejala infeksi juga penting untuk
seleksi dari petunjuk yang paling efektif.
Langkah
kontrol kejadian kontak adalah untuk memutuskan rantai infeksi TBC, dengan
imunisasi TBC negatif dan Chemoprophylaxis pada TBC
positif. Kontrol lingkungan dengan membatasi penyebaran penyakit,
disinfeksi dan cermat mengungkapkan investigasi epidemiologi, sehingga
ditemukan bahwa kontaminasi lingkungan memegang peranan terhadap epidemi
TBC. Melalui usaha pembatasan ketidakmampuan untuk membatasi kasus baru
harus dilanjutkan, dengan istirahat dan menghindari tekanan psikis.
3. Pencegahan Tersier
Rehabilitasi
merupakan tingkatan terpenting pengontrolan TBC. Dimulai dengan diagnosis kasus
berupa trauma yang menyebabkan usaha penyesuaian diri secara psikis,
rehabilitasi penghibur selama fase akut dan hospitalisasi awal pasien, kemudian
rehabilitasi pekerjaan yang tergantung situasi individu. Selanjutnya, pelayanan
kesehatan kembali dan penggunaan media pendidikan untuk mengurangi cacat sosial
dari TBC, serta penegasan perlunya rehabilitasi.
b.
Pengobatan
Pengobatan
dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap awal (intensif) dan tahap lanjutan. Lama
pengobatan 6-8 bulan, tergantung berat ringannya penyakit. Penderita harus
minum obat secara lengkap dan teratur sesuai jadwal berobat sampai dinyatakan
sembuh. Dilakukan tiga kali pemeriksaan ulang dahak untuk mengetahui
perkembangan kemajuan pengobatan, yaitu pada akhir pengobatan tahap awal,
sebulan sebelum akhir pengobatan dan pada akhir pengobatan.
5.
Mendiagnosa
TBC
Harus
dilakukan pemeriksaan dahak dengan miskroskop. Seseorang dipastikan menderita
TBC bila dalam dahaknya terdapat kuman TBC.
Dahak yang diambil adalah dahak
Sewaktu-Pagi-Sewaktu:
a.
Pada
waktu datang pertama kali untuk periksa ke unit pelayanan kesehatan, disebut
dahak Sewaktu pertama (S).
b.
Dahak
diambil pada pagi hari berikutnya segera setelah bangun tidur, kemudian dibawa
dan diperiksa di unit pelayanan kesehatan, disebut dahak Pagi (P).
c.
Dahak
diambil di unit pelayanan kesehatan pada saat menyerahkan dahak pagi, disebut
dahak Sewaktu kedua (S).
6.
Tempat
pengobatan penderita TBC
Puskesmas,
Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru (BP4), Rumah Sakit, klinik dan dokter
praktek swasta. Di Puskesmas, penderita bisa mendapatkan pengobatan TBC secara
cuma-cuma (GRATIS).
7.
Mengetahui
kemajuan pengobatan
Keluhan
berkurang atau hilang, berat badan bertambah, nafsu makan meningkat.
Pemeriksaan dahak pada akhir tahap awal juga menunjukkan hasil negatif.
K.
DAFTAR PUSTAKA
Dr. Andi Utama, Peneliti Puslit
Bioteknologi-LIPI http://www.beritaiptek.com/
http://www.keepkidshealthy.com/welcome/infectionsguide/tuberculosis.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar