Pages




PANDUAN DOWNLOAD

PANDUAN >> KLIK PILIHAN ANDA KEMUDIAN TUNGGU IKLAN 6 DETIK DAN KLIK SKIP

Selasa, 10 Desember 2013

JENIS-JENIS OBAT


Domperidon 10 mg

Deskripsi:
Domperidone merupakan antagonis dopamin yang secara periferal bekerja selektif pada reseptor D2.
Domperidone mempunyai khasiat antiemetik yang sama dengan metoclopramide.
Efek antiemetik dapat disebabkan oleh kombinasi efek periferal (gastrokinetik) dengan antagonis terhadap reseptor dopamin di ”chemoreceptor trigger zone”, yang terletak di luar sawar darah otak di area postrema.
Pemberian domperidone per oral dapat menambah lamanya kontraksi antral dan duodenum, meningkatkan pengosongan lambung, dan menambah tekanan pada sfingter esofagus bagian bawah pada orang sehat.

Komposisi:
Tiap tablet mengandung domperidone 10 mg.

Indikasi:
Sindroma dispepsia fungsional. Tidak dianjurkan untuk pemberian jangka lama.
Mual dan muntah yang disebabkan oleh pemberian levodopa dan bromokriptin lebih dari 12 minggu.
Mual dan muntah akut. Tidak dianjurkan pencegahan rutin pada muntah setelah operasi.
Pemakaian pada anak-anak tidak dianjurkan, kecuali untuk mual dan muntah pada kemoterapi kanker dan radioterapi.

Dosis:
Dispepsia fungsional
Dewasa:
10 mg (1 tablet) 3 kali sehari, 15-30 menit sebelum makan dan jika perlu sebelum tidur malam.

Anak-anak tidak dianjurkan.
Mual dan muntah (termasuk yang disebabkan oleh levodopa dan bromokriptin).
Dewasa:
10 – 20 mg (1 – 2 tablet) 3 – 4 kali sehari, 15 – 30 menit sebelum makan dan sebelum tidur malam.

Anak-anak (sehubungan kemoterapi kanker dan radioterapi):
0,2 – 0,4 mg/kg BB, 3 – 4 kali sehari. Obat diminum 15 – 30 menit sebelum makan dan sebelum tidur malam.

Kemasan:


Anak-anak: 5 mg/kg BB 3 kali sehari selama 5-7 hari.


Kemasan:



Metronidazole 250 mg
Deskripsi:
Metronidazole adalah antibakteri dan antiprotozoa sintetik derivat nitroimidazoi yang mempunyai aktifitas bakterisid, amebisid dan trikomonosid.

Dalam sel atau mikroorganisme metronidazole mengalami reduksi menjadi produk polar. Hasil reduksi ini mempunyai aksi antibakteri dengan jalan menghambat sintesa asam nukleat.
Metronidazole efektif terhadap Trichomonas vaginalis, Entamoeba histolytica, Gierdia lamblia. Metronidazole bekerja efektif baik lokal maupun sistemik.
Komposisi:
Tiap tablet mengandung metronidazol 250 mg.

Indikasi:
Metronidazole efektif untuk pengobatan :
Trikomoniasis, seperti vaginitis dan uretritis yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis.
Amebiasis, seperti amebiasis intestinal dan amebiasis hepatic yang disebabkan oleh E. histolytica.
Sebagai obat pilihan untuk giardiasis.

Dosis:
Trikomoniasis:
Pasangan seksual dan penderita dianjurkan menerima pengobatan yang sama dalam waktu bersamaan.

Dewasa
Untuk pengobatan 1 hari: 2 g 1 kali atau 1 gram 2 kali sehari.
Untuk pengobatan 7 hari: 250 mg 3 kali sehari selama 7 hari berturut-turut.

Amebiasis
Dewasa: 750 mg 3 kali sehari selama 10 hari.
Anak-anak: 35 – 50 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi 3, selama
10 hari.

Giardiasis
Dewasa: 250 – 500 mg 3 kali sehari selama 5 – 7 hari atau 2 g 1 kali
sehari selama 3 hari.
Anak-anak: 5 mg/kg BB 3 kali sehari selama 5-7 hari.

Kemasan:
Metronidazole 250 mg, botol 100 tablet


Cotrimoxazole Susp 240 mg/ 5ml
Deskripsi:
Cotrimoxazole adalah bakterisid yang merupakan kombinasi sulfametoksazol dan trimetoprim dengan perbandingan 5 : 1. Kombinasi tersebut mempunyai aktivitas bakterisid yang besar karena menghambat pada dua tahap biosintesa asam nukleat dan protein yang sangat esensial untuk mikroorganisme. Cotrimoxazole mempunyai spektrum aktivitas luas dan efektif terhadap bakteri gram-positif dan gram-negatif, misalnya Streptococci, Staphylococci, Pneumococci, Neisseria, Bordetella. Klebsiella, Shigella dan Vibrio cholerae. Cotrimoxazole juga efektif terhadap bakteri yang resisten terhadap antibakteri lain seperti H. influenzae, E. coli. P. mirabilis, P. vulgaris dan berbagai strain Staphylococcus.

Komposisi:
Tiap 5 ml suspensi mengandung 40 mg trimetoprim dan 200 mg sulfametoksazol.

Indikasi:
Infeksi saluran kemih dan kelamin yang disebabkan oleh E. coli. Klebsiella sp, Enterobacter sp, Morganella morganii, Proteus mirabilis, Proteus vulgaris.
Otitis media akut yang disebabkan Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae.
Infeksi saluran pernafasan bagian atas dan bronchitis kronis yang disebabkan Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae.
Enteritis yang disebabkan Shigella flexneri, Shigella sonnei.
Pneumonia yang disebabkan Pneumocystis carinii.
Diare yang disebabkan oleh E. coli.

Dosis:
6 minggu – 6 bulan:
120 mg, 2 kali sehari.

6 bulan – 6 tahun:
240 mg, 2 kali sehari.

6 – 12 tahun:
480 mg, 2 kali sehari.

Dewasa dan anak diatas 12 tahun : 960 mg, 2 kali sehari.
Kemasan:
Btl 60 ml

Cotrimoxazole 480 mg
Description: http://cdn.obat-penyakit.com/wp-content/themes/HealthyLifestyle/images/date.pngMay 15th, 2010 Description: http://cdn.obat-penyakit.com/wp-content/themes/HealthyLifestyle/images/user.pngObat Penyakit Description: http://cdn.obat-penyakit.com/wp-content/themes/HealthyLifestyle/images/folder.pngPosted in Obat
Description: Cotrimoxazole 480 mg
Deskripsi:
Cotrimoxazole adalah bakterisid yang merupakan kombinasi sulfametoksazol dan trimetoprim dengan perbandingan 5 : 1. Kombinasi tersebut mempunyai aktivitas bakterisid yang besar karena menghambat pada dua tahap biosintesa asam nukleat dan protein yang sangat esensial untuk mikroorganisme. Cotrimoxazole mempunyai spektrum aktivitas luas dan efektif terhadap bakteri gram-positif dan gram-negatif, misalnya Streptococci, Staphylococci, Pneumococci, Neisseria, Bordetella. Klebsiella, Shigella dan Vibrio cholerae. Cotrimoxazole juga efektif terhadap bakteri yang resisten terhadap antibakteri lain seperti H. influenzae, E. coli. P. mirabilis, P. vulgaris dan berbagai strain Staphylococcus.

Komposisi:
Tiap tablet mengandung 80 mg trimetoprim dan 400 mg sulfametoksazol.

Indikasi:
Infeksi saluran kemih dan kelamin yang disebabkan oleh E. coli. Klebsiella sp, Enterobacter sp, Morganella morganii, Proteus mirabilis, Proteus vulgaris.
Otitis media akut yang disebabkan Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae.
Infeksi saluran pernafasan bagian atas dan bronchitis kronis yang disebabkan Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae.
Enteritis yang disebabkan Shigella flexneri, Shigella sonnei.
Pneumonia yang disebabkan Pneumocystis carinii.
Diare yang disebabkan oleh E. coli.

Dosis:
6 minggu – 6 bulan:
120 mg, 2 kali sehari.

6 bulan – 6 tahun:
240 mg, 2 kali sehari.

6 – 12 tahun:
480 mg, 2 kali sehari.

Dewasa dan anak diatas 12 tahun:
960 mg, 2 kali sehari.

Kemasan:
Ktk 100


Ciprofloxacin 500 mg

Deskripsi:
Siprofloksasin merupakan anti infeksi sintetik golongan kinolon yang menghambat DNA-girase. Tidak menunjukkan resistensi paralel terhadap antibiotika lain yang tidak termasuk dalam golongan karboksilat. Efektif terhadap bakteri yang resisten terhadap antibiotika lain misalnya aminoglikosida, penisilin, sefalosporin dan tetrasiklin. Siprofloksasin efektif terhadap bakteri gram-negatif dan gram-positif.
Komposisi:
Tiap tablet salut selaput mengandung siprofloksasin hidroklorida monohidrat setara dengan siprofloksasin 500 mg.

Indikasi:
Untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh kuman patogen yang peka terhadap siprofloksasin pada saluran kemih kecuali prostatitis; uretritis dan servisitis gonore; saluran pernafasan kecuali pneumonia oleh streptokokus; kulit dan jaringan lunak; tulang dan sendi; saluran pencernaan termasuk demam tifoid dan paratifoid.

Dosis:
Infeksi saluran kemih:
ringan, sehari 2 kali 250 mg; berat, sehari 2 kali 500 mg.

Infeksi saluran nafas, tulang, sendi, kulit dan jaringan lunak:
ringan, sehari 2 kali 500 mg; berat, 2 kali sehari 750 mg.

Infeksi saluran cerna:
sehari 2 kali 500 mg.

Gonore akut:
sehari 250 mg, dosis tunggal.

Dosis dengan gangguan fungsi ginjal:
dimana klirens kreatinin kurang dari 20 ml/min maka dosis yang dianjurkan 500 mg sehari atau 250 mg bila diberikan 2 kali sehari.

Kemasan:
Ktk 50


Chloramphenikol

Deskripsi:
Kloramfenikol adalah antibiotik yang mempunyai aktifitas bakteriostatik, dan pada dosis tinggi bersifat bakterisid. Aktivitas antibakterinya dengan menghambat sintesa protein dengan jalan mengikat ribosom subunit 50S, yang merupakan langkah penting dalam pembentukan ikatan peptida. Kloramfenikol efektif terhadap bakteri aerob gram-positif, termasuk Streptococcus pneumoniae, dan beberapa bakteri aerob gram-negatif, termasuk Haemophilus influenzae, Neisseria meningitidis, Salmonella, Proteus mirabilis, Pseudomonas mallei, Ps. cepacia, Vibrio cholerae, Francisella tularensis, Yersinia pestis, Brucella dan Shigella.

Komposisi:
Tiap kapsul mengandung 250 mg kloramfenikol.

Dosis:
Dewasa, anak-anak, dan bayi berumur lebih dari 2 minggu :
50 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi 3 – 4.

Bayi prematur dan bayi berumur kurang dari 2 minggu :
25 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi 4.

Indikasi:
1.Kloramfenikol merupakan obat pilihan untuk penyakit tifus, paratifus dan salmonelosis lainnya.
2.Untuk infeksi berat yang disebabkan oleh H. influenzae (terutama infeksi meningual), rickettsia, lymphogranuloma-psittacosis dan beberapa bakteri gram-negatif yang menyebabkan bakteremia meningitis, dan infeksi berat yang lainnya.

Paket:
kotak 10 blister @ 12 kapsul

Penjelasan Dalam Bahasa Indonesia
Description: Griseofulvin 125 mg
Deskripsi:
Griseofulvin adalah antibiotika yang bersifat fungistatik. Secara in-vitro griseofulvin dapat menghambat pertumbuhan berbagai spesies dari Microsporum, Epidermophyton dan Trichophyton.
Pada penggunaan per oral griseofulvin diabsorpsi secara lambat, dengan memperkecil ukuran partikel, absorpsi dapat ditingkatkan. Griseofulvin ditimbun di sel-sel terbawah dari epidermis, sehingga keratin yang baru terbentuk akan tetap dilindungi terhadap infeksi jamur.

Komposisi:
Tiap tablet mengandung griseofulvin 125 mg

Indikasi:
Untuk pengobatan infeksi jamur (ring-worm) pada kulit, rambut dan kuku yang disebabkan oleh Microsporum, Epidermophyton dan Trichophyton.

Dosis:
Dewasa, pada umumnya 4 kali sehari 1 tablet sudah cukup. Untuk kasus tertentu mungkin diperlukan dosis awal yang lebih tinggi yaitu 8 tablet sehari.

Anak-anak, sehari 10 mg per kg berat badan.
Lama pengobatan dilakukan paling sedikit 4 minggu. Untuk kasus tertentu misalnya infeksi kuku, pengobatan dapat berlangsung selama 6 – 12 bulan.
Terapi dihentikan sekurang-kurangnya 2 minggu setelah infeksi hilang.
Kemasan:
Ktk 100


ASAM MEFENAMAT
Komposisi:
Tiap tablet salut selaput mengandung asam mefenamat 500 mg.

Dosis:
Digunakan melalui mulut (per oral), sebaiknya sewaktu makan.

Dewasa dan anak di atas 14 tahun :
Dosis awal yang dianjurkan 500 mg kemudian dilanjutkan 250 mg tiap 6 jam.

Indikasi:
Dapat menghilangkan nyeri akut dan kronik, ringan sampai sedang sehubungan dengan sakit kepala, sakit gigi, dismenore primer, termasuk nyeri karena trauma, nyeri sendi, nyeri otot, nyeri sehabis operasi, nyeri pada persalinan.

Paket:
Ktk 100

ACYCLOVIR
Deskripsi
Acyclovir termasuk golongan obat antivirus yang digunakan untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh virus jenis tertentu. Obat ini dapat mengobati luka ataupun benjolan berisi air di sekitar mulut yang disebabkan oleh herpes simpleks, herpes zoster dan cacar air. Obat ini juga dapat digunakan untuk mengobati herpes genital (herpes pada organ intim).
Acyclovir merupakan obat antivirus, namun sebenarnya bukan obat untuk membunuh virus herpes ataupun cacar air. Virus yang menyebabkan infeksi terus hidup dalam tubuh, namun obat ini dapat mengurangi keparahan dan mempercepat penyembuhan.
Obat ini membantu menyembuhkan luka atau benjolan yang timbul dengan lebih cepat, mencegah munculnya luka atau benjolan baru, dan mengurangi rasa sakit serta gatal. Selain itu, pada orang dengan sistem kekebalan yang lemah, obat ini dapat mengurangi risiko virus menyebar ke bagian tubuh lain dan menyebabkan infeksi serius. Acyclovir hanya dapat diperoleh dengan menggunakan resep dokter.
Produk ini tersedia dalam bentuk sediaan berikut:
1. Suspensi
2. Tablet
3. Kapsul
4. Larutan
5. Bubuk untuk dilarutkan

Komposisi
Liquid (50383-810) acyclovir 200 mg in 5 ml

Indikasi
1. Herpes simplex
2. Herpes zoster
3. Herpes genital (herpes pada organ intim
4. Chicken pox (cacar air)

Kontraindikasi
Pasien yang hipersensitif dengan obat golongan Acyclovir dan Valacyclovir.

Dosis
Per oral (melalui mulut)

1. Pada pengobatan akut Hepes zoster
800 mg setiap 4 jam, 5xsehari selama 7-10 hari per oral.

2. Pada pengobatan Herpes genital
200 mg setiap 4 jam, 5 kali sehari selama 10 hari.

3. Pada pengobatan untuk cacar air
Anak (> 2 tahun):
20 mg/kg dosis 4xsehari (80 mg/kg per hari) selama 5 hari. Anak di atas 40 kg harus menerima dosis dewasa.
Dewasa dan anak diatas 40 kg:
800 mg 4xsehari selama 5 hari.

Kemasan
Acyclovir suspensi oral dalam botol 1 liter (473 ml).

Ampicillin 500 mg
Deskripsi:
Ampisilina termasuk golongan penisilina semisintetik yang berasal dari inti penisilina yaitu asam 6-amino penisilinat (6-APA) dan merupakan antibiotik spektrum luas yang bersifat bakterisid.
Secara klinis efektif terhadap kuman gram-positif yang peka terhadap penisilina G dan bermacam-macam kuman gram-negatif, diantaranya:
1.Kuman gram-positif seperti S. pneumoniae, enterokokus dan stafilokokus yang tidak menghasilkan penisilinase.
2.Kuman gram-negatif seperti gonokokus, H. influenzae, beberapa jenis E. coli, Shigella, Salmonella dan P. mirabilis.

Komposisi:
Tiap captab mengandung Ampisilina Trihidrat setara dengan Ampisilina Anhidrat 500 mg.

Indikasi:
Ampisilina digunakan untuk pengobatan :
Infeksi saluran pernafasan,seperti pneumonia faringitis, bronkitis, laringitis.
Infeksi saluran pencernaan, seperti shigellosis, salmonellosis.
Infeksi saluran kemih dan kelamin, seperti gonore (tanpa komplikasi), uretritis, sistitis, pielonefritis.
Infeksi kulit dan jaringan kulit.
Septikemia, meningitis.

Dosis:
Untuk pemakaian oral dianjurkan diberikan sampai 1 jam sebelum makan.
Cara pembuatan suspensi, dengan menambahkan air matang sebanyak 50 ml, kocok sampai serbuk homogen. Setelah rekonstitusi, suspensi tersebut harus digunakan dalam jangka waktu 7 hari.
Pemakaian parenteral baik secara i.m. ataupun i.v. dianjurkan bagi penderita yang tidak memungkinkan untuk pemakaian secara oral.
Cara pembuatan larutan injeksi :
Kemasan Cara pemakaian Penambahan air untuk injeksi
Vial 0,5 g i.m./i.v. 1,5 ml
Vial 1,0 g i.m./i.v. 2,0 ml
Posologi
Terapi oral
Dewasa dan anak-anak dengan berat badan lebih dari 20 kg :
Infeksi saluran pernafasan : 250 – 500 mg setiap 6 jam.
Infeksi saluran pencernaan, saluran kemih dan kelamin : 500 mg setiap 6 jam.
Anak-anak dengan berat badan 20 kg atau kurang : 50 – 100 mg/kg BB sehari diberikan dalam dosis terbagi setiap 6 jam.
Pada infeksi yang berat dianjurkan diberikan dosis yang lebih tinggi.
Terapi parenteral
Dewasa dan anak-anak dengan berat badan lebih dari 20 kg :
Infeksi saluran pernafasan, kulit dan jaringan kulit : 250 – 500 mg setiap 6 jam.
Infeksi saluran pencernaan, saluran kemih dan kelamin : 500 mg setiap 6 jam.
Septikemia dan bakterial meningitis : 150 – 200 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi setiap 3 – 4 jam, diberikan secara i.v. selama 3 hari selanjutnya secara i.m.
Anak-anak dengan berat badan 20 kg atau kurang :
Infeksi saluran pernafasan, kulit dan jaringan kulit : 25 – 50 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi setiap 6 jam.
Infeksi saluran pencernaan, saluran kemih dan kelamin : 50 – 100 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi setiap 6 jam.
Septikemia dan bakterial meningitis : 100 – 200 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi setiap 3 – 4 jam, diberikan secara i.v. selama 3 hari selanjutnya secara i.m.
Bayi berusia 1 minggu atau kurang :
25 mg/kg BB secara i.m./i.v. setiap 8 – 12 jam.
Bayi berusia lebih dari 1 minggu :
25 mg/kg BB secara i.m./i.v. setiap 6 – 8 jam.

Kemasan:
Ktk 100


Amoxicillin 125 mg/5 ml Sirker
Deskripsi:
Amoksisilina merupakan senyawa penisilina semi sintetik dengan aktivitas antibakteri spektrum luas yang bersifat bakterisid. Aktivitasnya mirip dengan ampisilina, efektif terhadap sebagian besar bakteri gram-positif dan beberapa gram-negatif yang patogen. Bakteri patogen yang sensitif terhadap amoksisilina adalah Staphylococci, Streptococci, Enterococci, S. pneumoniae, N. gonorrhoeae, H. influenzae, E. coli, dan P. mirabilis.
Amoksisilina kurang efektif terhadap spesies Shigella dan bakteri penghasil beta-laktamase.

Komposisi:
Tiap sendok teh (5 ml) suspensi mengandung amoksisilina trihidrat setara dengan amoksisilina anhidrat 125 mg.

Indikasi:
Amoksisilina efektif terhadap penyakit :
Infeksi saluran pernafasan kronik dan akut: pneumonia, faringitis (tidak untuk faringitis gonore), bronkitis, laringitis.
Infeksi saluran cerna: disentri basiler.
Infeksi saluran kemih : gonore tidak terkomplikasi, uretritis, sistitis, pielonefritis.
Infeksi lain : septikemia, endokarditis.

Dosis:
Dosis amoksisilina disesuaikan dengan jenis dan beratnya infeksi.
Anak dengan berat badan kurang dari 20 kg : 20 – 40 mg/kg berat badan sehari, terbagi dalam 3 dosis.

Dewasa atau anak dengan berat badan lebih dari 20 kg: 250 – 500 mg sehari, sebelum makan.
Gonore yang tidak terkomplikasi: amoksisilina 3 gram dengan probenesid 1 gram sebagai dosis tunggal.
Kemasan:
Btl 60 ml


FAMOTIDIN
Deskripsi:
Famotidin bekerja dengan menghambat secara kompetitif reseptor histamin H2.
Aktivitas farmakologi yang penting dari famotidin adalah menghambat sekresi gastrik, sehingga volume sekresi gastrik dan konsentrasi asam menurun.

Komposisi:
Tiap tablet salut selaput mengandung 40 mg famotidin.

Dosis:
1.Ulkus duodenum akut :
Dewasa : sehari 40 mg atau 2 kali 20 mg sebelum tidur malam.
2.Pemeliharaan ulkus duodenum :
Dewasa : sehari 20 mg sebelum tidur malam.
3.Hipersekresi patologis (misal : Zollinger-Ellison Syndrome, multiple Endocrine Adenomas)
Dewasa : dosis awal 20 mg/6 jam, dosis dapat ditingkatkan sampai 160 mg/6 jam pada pasien dengan Zollinger-Ellison Syndrome yang parah.
4.Dosis pada penderita dengan kelainan ginjal :
- 60 > CLCR > 30 setengah dosis normal
- CLCR < 30 seperempat dosis normal.

Indikasi:
Famotidin diindikasikan untuk :
1.Terapi jangka pendek pengobatan ulkus duodenum akut.
2.Pemeliharaan pasien ulkus duodenum pada dosis yang dikurangi sesudah sembuh dari tukak aktif.
3.Pengobatan pada kondisi hipersekresi patologis (misal : Zollinger-Ellison Syndrome, multiple endocrine adenomas).

Paket:
Kotak 5 strip @ 10 tablet salut selaput


FAMOTIDIN

Deskripsi:
Famotidin bekerja dengan menghambat secara kompetitif reseptor histamin H2.
Aktivitas farmakologi yang penting dari famotidin adalah menghambat sekresi gastrik, sehingga volume sekresi gastrik dan konsentrasi asam menurun.

Komposisi:
Tiap tablet salut selaput mengandung 40 mg famotidin.

Dosis:
1.Ulkus duodenum akut :
Dewasa : sehari 40 mg atau 2 kali 20 mg sebelum tidur malam.
2.Pemeliharaan ulkus duodenum :
Dewasa : sehari 20 mg sebelum tidur malam.
3.Hipersekresi patologis (misal : Zollinger-Ellison Syndrome, multiple Endocrine Adenomas)
Dewasa : dosis awal 20 mg/6 jam, dosis dapat ditingkatkan sampai 160 mg/6 jam pada pasien dengan Zollinger-Ellison Syndrome yang parah.
4.Dosis pada penderita dengan kelainan ginjal :
- 60 > CLCR > 30 setengah dosis normal
- CLCR < 30 seperempat dosis normal.

Indikasi:
Famotidin diindikasikan untuk :
1.Terapi jangka pendek pengobatan ulkus duodenum akut.
2.Pemeliharaan pasien ulkus duodenum pada dosis yang dikurangi sesudah sembuh dari tukak aktif.
3.Pengobatan pada kondisi hipersekresi patologis (misal : Zollinger-Ellison Syndrome, multiple endocrine adenomas).

Paket:
Kotak 5 strip @ 10 tablet salut selaput


PIROKSIKAM

Deskripsi:
Piroksikam adalah obat antiinflamasi non steroid yang mempunyai aktifitas antiinflamasi, analgetik – antipiretik.
Aktifitas kerja piroksikam belum sepenuhnya diketahui, diperkirakan melalui interaksi beberapa tahap respon imun dan inflamasi, antara lain : penghambatan enzim siklo-oksigenase pada biosintesa prostaglandin, penghambatan pengumpulan netrofil dalam pembuluh darah, serta penghambatan migrasi polimorfonuklear (PMN) dan monosit ke daerah inflamasi.


Komposisi:
Tiap kapsul mengandung 20 mg piroksikam.


Indikasi:
Terapi simptomatik rematoid artritis, osteoartritis, ankilosing spondilitis, gangguan muskuloskeletal akut dan gout akut.


Dosis:
Dewasa:
Rematoid artritis, osteoartritis dan ankilosing spondilitis, dosis awal 20 mg dalam dosis tunggal.
Gout akut, 40 mg sehari dalam dosis tunggal selama 4–6 hari.
Gangguan muskuloskeletal akut, 40 mg sehari dalam dosis tunggal selama 2 hari, selanjutnya 20 mg sehari dalam dosis tunggal selama 7–14 hari.
Dosis untuk anak belum diketahui.


Kemasan:
Ktk 120


Deskripsi:
Piroksikam adalah obat antiinflamasi non steroid yang mempunyai aktifitas antiinflamasi, analgetik – antipiretik.
Aktifitas kerja piroksikam belum sepenuhnya diketahui, diperkirakan melalui interaksi beberapa tahap respon imun dan inflamasi, antara lain : penghambatan enzim siklo-oksigenase pada biosintesa prostaglandin, penghambatan pengumpulan netrofil dalam pembuluh darah, serta penghambatan migrasi polimorfonuklear (PMN) dan monosit ke daerah inflamasi.

Komposisi:
Tiap kapsul mengandung 10 mg piroksikam.

Indikasi:
Terapi simptomatik rematoid artritis, osteoartritis, ankilosing spondilitis, gangguan muskuloskeletal akut dan gout akut.

Dosis:
Dewasa
Rematoid artritis, osteoartritis dan ankilosing spondilitis, dosis awal 20 mg dalam dosis tunggal.
Gout akut, 40 mg sehari dalam dosis tunggal selama 4–6 hari.
Gangguan muskuloskeletal akut, 40 mg sehari dalam dosis tunggal selama 2 hari, selanjutnya 20 mg sehari dalam dosis tunggal selama 7–14 hari.
Dosis untuk anak belum diketahui.

Kemasan:
Ktk 120


DIKLOFENAK

Deskripsi:
Diklofenak adalah golongan obat non steroid dengan aktivitas anti-inflamasi, analgesic dan antipiretik. Aktivitas diklofenak menghambat enzim siklo-oksigenase sehingga pembentukan prostaglandin terhambat.


Komposisi:
Tiap tablet salut enteric mengandung natrium diklofenak 50 mg.


Indikasi:
Pengobatan akut dan kronis gejala-gejala rematoid artritis, osteoartritis dan ankilosing spondilitis.


Dosis:
Osteoartritis: 50 mg, 2-3 kali sehari atau 75 mg, 2 kali sehari.

Rematoid artritis: 50 mg, 3-4 kali sehari, atau 75 mg, 2 kali sehari.
Ankilosing spondilitis: 25 mg, 4 kali sehari, ditambahkan 25 mg saat akan tidur.
Tablet harus ditelan utuh sebelum makan.

Kemasan:
Ktk 50



LAPORAN PENDAHULUAN TRAUMA KAPITIS




I. PENGERTIAN

Trauma  kapitis adalah ganguan traumatik yang menyebabkan gangguan fungsi otak  disertai atau tanpa disertai perdarahan intestiri dan tidak menganggu jaringan otak
( Brunner & Suddarth, 2000 )
Head injury (Trauma kepala) termasuk kejadian trauma pada kulit kepala, tengkorak              atau otak. Batasan trauma kepala digunakan terutama untuk mengetahui trauma cranicerebral, termasuk gangguan kesadaran.
( Iwan, S.Kp, 2007 )
Trauma kepala  adalah   suatu trauma yang mengenai daerah kulit kepala, tulang tengkorak atau otak yang terjadi akibat injury baik secara langsung maupun tidak langsung pada kepala.
( Suriadi & Rita Yuliani, 2001 )
  • Jenis Trauma Otak
1. Trauma Primer
~ Terjadi karena benturan langsung atau tidak langsung (akselerasi/deselerasi utuh).
2. Trauma Sekunder
~ Merupakan akibat dari trauma saraf (melalui akson) yang meluas, hipertensi, intrakranial, hipoksia, hiperapnea, atau hipotensi sistemik.
( Marlyn. E. Doengoes; 2000 )
  • Jenis Trauma Kepala
1. Robekan Kulit Kepala
Robekan kulit kepala merupakan kondisi agak ringan dari trauma kepala. Oleh karena kulit kepala banyak mengandung pembuluh darah dengan kurang memiliki kemampuan konstriksi, sehingga banyak trauma kepala dengan perdarahan hebat. Komplikasi utama robekan kepala ini adalah infeksi.
2.. Fraktur Tulang Tengkorak
Fraktur tulang tengkorak sering terjadi pada trauma kepala. Beberapa cara untuk menggambarkan fraktur tulang tengkorak :
Garis patahan atau tekanan.
Sederhana, remuk atau compound..

3. Terbuka atau Tertutup
Fraktur yang terbuka atau tertutup bergantung pada keadaan robekan kulit atau sampai menembus kedalam lapisan otak. Jenis dan kehebatan fraktur tulang tengkorak bergantung pada kecepatan pukulan, momentum, trauma langsung atau tidak.

II. ANATOMI FISIOLOGI
Tulang kepala terdiri dari 3 lapisan:
  • Tabula Eksterna
Merupakan lapisan yang keras
  • Diploe
Merupakan lapisan tulang “cancellous” dan mengandung banyak cabang – cabang arteri / vena diploika yang berasal baik dati permukaan luar maupun dari durameter.
  • Tabula Interna
Serupa tabula eksterna tetapi hanya lebih tipis, sehingga pada benturan tidak tertutup kemungkinan terjadi fraktur menekan pada tabula interna, dengan tabula eksterna tetapi intak.
Meningen
Membran jaringan ikat yang terdiri dari:
1.Durameter (Pachymeninx)
  • Lapisan paling luar, merupakan lapisan fibrosa, liat dan kuat.
  • Membagi ruang antara kranium dan otak menjadi:
*Ruang Epidural : antara tulang dan durameter
*Ruang Subdural : antara durameter dan otak
  • Terdiri dari 2 lapisan:
*Lapisan luar : dikenal sebagai periosteum interna dan berhubungan dengan periosteum eksterna melalui foramen magnum.
*Lapisan dalam : berjalan terus ke distal sebagai durameter spinal. Dengan adanya struktur ini tidak terjadi komunikasi antara ruang epidural kepala dengan ruang epidural spinal.
  • Mempunyai 4 bangunan lipatan durameter, yaitu:
*Falx Cerebri
*Tentorium Cerebri
*Difragma Sella
*Falx Serebeli
2. Arakhnoid
  • Membran jaringan ikat, tipis, tansparan, avaskuler terpisah dari durameter diatasnya hanya oleh sedikit cairan yang fungsinya sebagai pembasah.
  • Di permukaan basal otak dan sekitar batang otak, piameter dan arakhnoid terpisah agak jauh sehingga terbentuk ruang sisterna subarakhnoid.
Dibagian ventral baatang otak
-    Sisterna kiasmatik : terletak di daerah kiasma optika
-    Sisterna interpendukularis : terletak pada fossa interpedunkularis mesensefalon
-    Sisterna pontin : terletak di persimpangan pontomedularis
Dibagian dorsal batang otak
-    Sisterna magna (sisterna cerebellomedullaris)
-    Sisterna ambiens (sisterna superior)
3. Piameter
  • Lapisan meningen paling dalam, terdiri dari 2 lapis;
  • Fungsi : sebagai pelindung masuknya bahan toksis atau mikroorganisme.
  • Melekat pada parenkim otak / spinal, sehingga mengikuti bentuk sulkus-sulkus.
  • Mengandung pembuluh darah kecil yang memebri makan pada struktur otak dibawahnya.
  • Bersama dengan lapisan arakhnoid disebut Leptomeningen.
Pembagian otak ada 3 yaitu:
-Serebrum (otak besar)
Terdiri dari 2 hemisfer dan 4 lobus
-    Hemisfer kanan dan hemisfer kiri
-    Lobus terdiri dari:
  • lobus frontal
lobus terbesar, pada tosa anterior
fungsi : mengontrol perilaku individu,kepribadian, membuat keputusan dan menahan diri
  • lobus temporal (samping)
fungsi menginterpretasikan sensori mengecap, bau dan pendengaran
  • lobusparietal
fungsi menginterpretasikan sensori
  • lobus oksipital (posterior)
fungsi menginterpretasikan penglihatan
-Serebelum (otak kecil)
Terletak di bagian posterior dan terpisah dari hemister serebral
Serebelum mempunyai fungsi merangsang dan menghambat dan tanggung jawab yang luas terhadap koordinasi dan gerakan halus.
-Batang Otak
Terdiri dari bagian-bagian otak tengah, pons dan medula oblongata:
*otak tengah
menghubungkan pons dan serebelum dengan hemister serebrum
*pons
terletak di depan serebelum antara otak tengah dan medula
*medula oblongata
fungsi meneruskan serabut-serabut motorik dari otak medula spinalis ke otak
Sistem Syaraf Perifer
-          sistem syaraf somatik
-          sistem syaraf otonom : * susunan syaraf simpatis
* susunan syaraf parasimpatis
~ Sistem syaraf Somatik
Susunan syaraf yang mempunyai peranan spesifik untuk mengetur aktivitas otot sadar /  serat lintang.
~ Sistem syaraf Otonom
Susunan syaraf yang mempunyai peranan penting, mempengaruhi pekerjaan otot tak sadar (otot polos).
Seperti: otot jantung, hati, pancreas, saluran pencernaan, kelenjar, dll.
Fungsi Sistem Persyarafan
  1. Menerima informasi (stimulus) internal maupun eksternal, melalui syarat sensori.
  2. Mengkomunikasikan antara syarat pusat sampai  syarat tepi
  3. Mengolah informasi yang diterima di medula spinalis dan atau di otak, yaitu menentukan respon.
  4. Mengatur jawaban (respon) secara cepat melalui syaraf motorik (efferent motorik palway), ke organ-organ tubuh sebagai kontrol / modifikasi tindakan.
Sirkulasi darah pada Serebral
Otak menerima sekitar 20% dari curah jantung. Kurangnya suplai darah ke otak dapat menyebabkan jaringan rusak ireversibel.
2 arteri yaitu arteri carotis interdan dan arteri vertebral adalah arteri yang menyuplai darah ke otak. Pada dasar otak disekitar kelenjar hipofisis, terdapat sebuah lingkaran arteri terbentuk diantara rangkaian arteri karotis interna dan vertebral, disebut sirkulus wilisi yang dibentuk dari cabang-cabang arteri carotis internal. Sedangkan vena-vena pada serebri bersifat unik, karena tidak seperti vena-vena lain. Vena-vena serebri tidak mempunyai katup untuk mencegah aliran darah balik.
( Brunner and Sudarth, 2002 )

LAPORAN PENDAHULUAN DIABETES MELITUS


DIABETES MELITUS

A. KONSEP DASAR
1. Pengertian
  • Diabetes melitus adalah gangguan metabolisme yang secara genetis dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi karbohidrat (Silvia. Anderson Price, 1995)
  • Diabetes melitus adalah gangguan metabolik kronik yang tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dikontrol yang dikarakteristikan dengan ketidak ade kuatan penggunaan insulin (Barbara Engram; 1999, 532)
  • Diabetes melitus adalah suatu penyakit kronik yang komplek yang melibatkan kelainan metabolisme karbohidrat, protein dan lemak dan berkembangnya komplikasi makro vaskuler, mikro vaskuler dan neurologis (Barbara C. Long, 1996).
2. Etiologi
Penyebab Diabetes Melitus berdasarkan klasifikasi menurut WHO tahun 1995 adalah :
a.    DM Tipe I (IDDM : DM tergantung insulin)
•    Faktor genetik / herediter
Faktor herediter menyebabkan timbulnya DM melalui kerentanan sel-sel beta terhadap penghancuran oleh virus atau mempermudah perkembangan antibodi  autoimun melawan sel-sel beta, jadi mengarah pada penghancuran sel-sel beta.
•    Faktor infeksi virus
Berupa infeksi virus coxakie dan Gondogen yang merupakan pemicu yang menentukan proses autoimun pada individu yang peka secara genetik
b.    DM Tipe II (DM tidak tergantung insulin = NIDDM)
•    Terjadi paling sering pada orang dewasa, dimana terjadi obesitas pada individu obesitas dapat menurunkan jumlah resoptor insulin dari dalam sel target insulin diseluruh tubuh. Jadi membuat insulin yang tersedia kurang efektif dalam meningkatkan efek metabolik yang biasa.
c.    DM Malnutrisi
•    Fibro Calculous Pancreatic DM (FCPD)
Terjadi karena mengkonsumsi makanan rendah kalori dan rendah protein sehingga klasifikasi pangkreas melalui proses mekanik (Fibrosis) atau toksik (Cyanide) yang menyebabkan sel-sel beta menjadi rusak.
•    Protein Defisiensi Pancreatic Diabetes Melitus (PDPD)
Karena kekurangan protein yang kronik menyebabkan hipofungsi sel Beta pancreas
d.    DM Tipe Lain
•    Penyakit pankreas seperti : pancreatitis, Ca Pancreas dll
•    Penyakit hormonal
Seperti : Acromegali yang meningkat GH (growth hormon) yang merangsang sel-sel beta pankeras yang menyebabkan sel-sel ini hiperaktif dan rusak
•    Obat-obatan
-    Bersifat sitotoksin terhadap sel-sel  seperti aloxan dan streptozerin
-    Yang mengurangi produksi insulin seperti derifat thiazide, phenothiazine dll.
3. Manifestasi klinis
1. Poliuria
2. Polidipsi
3. Polipagia
4. Penurunan berat badan
5. Kelemahan, keletihan dan mengantuk
6. Malaise
7. Kesemutan pada ekstremitas
8. Infeksi kulit dan pruritus
9. Timbul gejala ketoasidosis & samnolen bila berat
 WOC (terlampir)®4. Patofisiologi 
5. Penatalaksanaan
Tujuannya :
a.    Jangka panjang    : mencegah komplikasi
b.    Jangka pendek    : menghilangkan keluhan/gejala DM
Penatalaksanaan DM
a.    Diet
Perhimpunan Diabetes Amerika dan Persatuan Dietetik Amerika Merekomendasikan = 50 – 60% kalori yang berasal dari :
•    Karbohidrat    60 – 70%
•    Protein    12 – 20 %
•    Lemak    20 – 30 %
b.    Latihan
Latihan dengan cara melawan tahanan dapat menambah laju metablisme istirahat, dapat menurunkan BB, stres dan menyegarkan tubuh.
Latihan menghindari kemungkinan trauma pada ekstremitas bawah, dan hindari latihan dalam udara yang sangat panas/dingin, serta pada saat pengendalian metabolik buruk.
Gunakan alas kaki yang tepat dan periksa kaki setiap hari sesudah melakukan latihan.
c.    Pemantauan
Pemantauan kadar Glukosa darah secara mandiri.
d.    Terapi (jika diperlukan)
e.    Pendidikan
(Brunner & Suddarth, 2002)
6.    Pemeriksaan Diagnostik
    Gula darah meningkat
Ø
Kriteria diagnostik WHO untuk DM pada dewasa yang tidak hamil :
Pada sedikitnya 2 x pemeriksaan :
a.    Glukosa plasma sewaktu/random > 200 mg/dl (11,1 mmol/L)
b.    Glukosa plasma puasa/nuchter > 140 mg/dl (7,8 mmol/L)
c.    Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial) > 200 mg/dl.
    Tes Toleransi Glukosa
Ø
Tes toleransi glukosa oral : pasien mengkonsumsi makanan tinggi kabohidrat (150 – 300 gr) selama 3 hari sebelum tes dilakukan, sesudah berpuasa pada malam hari keesokan harinya sampel darah diambil, kemudian karbohidrat sebanyak 75 gr diberikan pada pasien
(Brunner & Suddarth, 2003)
    Aseton plasma (keton)    : positif secara mencolokØ
    Asam lemak bebas : kadar lipid dan kolesterol meningkat
Ø
    Osmolaritas serum : meningkat,
Ø < 330 mosm/dl
    Elektrolit :
Ø
    Natrium    :     meningkat atau menurun
§
  Kalium    :    (normal) atau meningkat semu (pemindahan seluler) selanjutnya menurun.
§
    Fosfor    :    lebih sering meningkat
§
    Gas darah arteri : biasanya menunjukkan pH rendah dan Po menurun
Ø pada HCO3 (asidosis metabolik) dengan kompensasi alkolosis resperatorik.
    Trombosit darah : H+ mungkin meningkat (dehidrasi) ; leukositosis;
Ø hemokonsentrasi merupakan resnion terhadap sitosis atau infeksi.
    Ureum/kreatinin : meningkat atau normal (dehidrasi/menurun fungsi ginjal).
Ø
    Urine : gula dan aseton (+), berat jenis dan osmolaritas mungkin meningkat.
Ø
(Doengoes, 2000)
7.    Komplikasi
a.    Komplikasi metabolik
•    Ketoasidosis diabetik
•    HHNK (Hiperglikemik Hiperosmolar Non Ketotik)
b.    Komplikasi
•    Mikrovaskular kronis (penyakit ginjal dan mata) dan Neuropati
•    Makrovaskular (MCl, Stroke, penyakit vaskular perifer).
(Brunner & Suddarth, 2002)
B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a.    Riwayat Kesehatan Sekarang
Biasanya klien masuk ke RS dengan keluhan utama gatal-gatal pada kulit yang disertai bisul/lalu tidak sembuh-sembuh, kesemutan/rasa berat, mata kabur, kelemahan tubuh. Disamping itu klien juga mengeluh poli urea, polidipsi, anorexia, mual dan muntah, BB menurun, diare kadang-kadang disertai nyeri perut, kramotot, gangguan tidur/istirahat, haus-haus, pusing-pusing/sakit kepala, kesulitan orgasme pada wanita dan masalah impoten pada pria.
b.    Riwayat Kesehatan Dahulu
o    Riwayat hipertensi/infark miocard akut dan diabetes gestasional
o    Riwayat ISK berulang
o    Penggunaan obat-obat seperti steroid, dimetik (tiazid), dilantin dan penoborbital.
o    Riwayat mengkonsumsi glukosa/karbohidrat berlebihan
c.    Riwayat Kesehatan Keluarga
Adanya riwayat anggota keluarga yang menderita DM.
d.    Pemeriksaan Fisik
o    Neuro sensori
Disorientasi, mengantuk, stupor/koma, gangguan memori, kekacauan mental, reflek tendon menurun, aktifitas kejang.
o    Kardiovaskuler
Takikardia / nadi menurun atau tidak ada, perubahan TD postural, hipertensi dysritmia, krekel, DVJ (GJK)
o    Pernafasan
Takipnoe pada keadaan istirahat/dengan aktifitas, sesak nafas, batuk dengan tanpa sputum purulent dan tergantung ada/tidaknya infeksi, panastesia/paralise otot pernafasan (jika kadar kalium menurun tajam), RR > 24 x/menit, nafas berbau aseton.
o    Gastro intestinal
Muntah, penurunan BB, kekakuan/distensi abdomen, aseitas, wajah meringis pada palpitasi, bising usus lemah/menurun.
o    Eliminasi
Urine encer, pucat, kuning, poliuria, urine berkabut, bau busuk, diare (bising usus hiper aktif).
o    Reproduksi/sexualitas
Rabbas vagina (jika terjadi infeksi), keputihan, impotensi pada pria, dan sulit orgasme pada wanita
o    Muskulo skeletal
Tonus otot menurun, penurunan kekuatan otot, ulkus pada kaki, reflek tendon menurun kesemuatan/rasa berat pada tungkai.
o    Integumen
Kulit panas, kering dan kemerahan, bola mata cekung, turgor jelek, pembesaran tiroid, demam, diaforesis (keringat banyak), kulit rusak, lesi/ulserasi/ulkus.
e.    Aspek psikososial
o    Stress, anxientas, depresi
o    Peka rangsangan
o    Tergantung pada orang lain
f.    Pemeriksaan diagnostik
o    Gula darah meningkat > 200 mg/dl
o    Aseton plasma (aseton) : positif secara mencolok
o    Osmolaritas serum : meningkat tapi < 330 m osm/lt
o    Gas darah arteri pH rendah dan penurunan HCO3 (asidosis metabolik)
o    Alkalosis respiratorik
o    Trombosit darah :  mungkin meningkat (dehidrasi), leukositosis, hemokonsentrasi, menunjukkan respon terhadap stress/infeksi.
o    Ureum/kreatinin : mungkin meningkat/normal lochidrasi/penurunan fungsi ginjal.
o    Amilase darah : mungkin meningkat > pankacatitis akut.
o    Insulin darah : mungkin menurun sampai tidak ada (pada tipe I), normal sampai meningkat pada tipe II yang mengindikasikan insufisiensi insulin.
o    Pemeriksaan fungsi tiroid : peningkatan aktivitas hormon tiroid dapat meningkatkan glukosa darah dan kebutuhan akan insulin.
o    Urine : gula dan aseton positif, BJ dan osmolaritas mungkin meningkat.
o    Kultur dan sensitivitas : kemungkinan adanya infeksi pada saluran kemih,  infeksi pada luka.
2. Diagnosa keperawatan
a.    Kekurangan volume cairan berhubungan dengan osmotik, kehilangan gastrik berlebihan, masukan yang terbatas.
b.    Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidak cukupan insulin penurunan masukan oral, status hipermetabolisme.
c.    Resti infeksi berhubungan dengan kadar glukosa tinggi, penurunan fungsi leukosit, perubahan sirkulasi.
d.    Resti perubahan sensori perseptual berhubungan dengan perubahan kimia endogen (ketidak seimbangan glukosa/insulin dan elektrolit.
e.    Ketidakberdayaan berhubungan dengan ketergantungan pada orang lain, penyakit jangka panjang.
f.    Kurang pengetahuan mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi. (Doengoes, 2000)
C. Intervensi
1.    Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik, kehilangan gastrik berlebihan, masukan yang terbatas.
Data yang mungkin muncul :
, kulit kering, turgor buruk.
¯Peningkatan haluaran urin, urine encer, haus, lemah, BB
Hasil yang diharapkan :
Tanda vital stabil, turgor kulit baik, haluaran urin normal, kadar elektrolit dalam batas normal.
Intervensi    Rasional
Mandiri
1.    Pantau tanda vital    Hipovolemia dapat ditandai dengan hipotensi dan takikardi.
2.    Kaij suhu, warna kulit dan kelembaban.    Demam, kulit kemerahan, kering sebagai cerminan dari dehidrasi.
3.    Pantau masukan dan pengeluaran, catat bj urin    Memberikan perkiraan kebutuhan akan cairanpengganti, fungsi ginjal dan keefektifan terapi.
4.    Ukur BB setiap hari    Memberikan hasil pengkajian yang terbaik dan status cairan yang sedang berlangsung dan selanjutnya dalam memberikan cairan pengganti.
 2500 cc/hari jika pemasukan secara oral sudah
±5.    Pertahankan cairan  dapat diberikan.    Mempertahankan hidrasi/volume sirkulasi
6.    Tingkatkan lingkungan yang nyaman selimuti dengan selimut tipis    Menghindari pemanasan yang berlebihan pada pasien yang akan menimbulkan kehilangan cairan.
7.    Catat hal-hal yang dilaporkan seperti mual, nyeri abdomen, muntah, distensi lambung.    Kekurangan cairan dan elektrolit mengubah motilitas lambung, yang sering menimbulkan muntah sehingga terjadi kekurangan cairan atau elektrolit.
Kolaborasi
8.    Berikan terapi cairan sesuai indikasi
Tipe dan jumlah cairan tergantung pada derajat kekurangan cairan dan respons pasien secara individual.
9.    Pasang selang NGT dan lakukan penghisapan sesuai dengan indikasi.    Mendekompresi lambung dan dapat menghilangkan muntah.
2.    Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidak cukupan insulin, penurunan masukan oral, hipermetabolisme
, kelemahan, kelelahan, tonus otot buruk, diare.
¯Data : Masukan makanan tidak adekuat, anorexia, BB
.
­Kriteria Hasil : Mencerna jumlah nutrien yang tepat, menunjukkan tingkat energi biasanya, BB stabil/
Intervensi    Rasional
Mandiri
1.    Timbang BB setiap hari    Mengkaji pemasukan makananyang adekuat (termasuk absorpsi).
2.    Tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dihabiskan pasien.    Mengidentifikasi kekurangan dan penyimpangan dari kebutuhan.
3.    Auskultasi bising usus, catat adanya nyeri, abdomen, mual, muntah.    Hiperglikemi dapat menurunkan motilitas/ fungsi lambung (distensi atau ileus paralitik) yang akan mempengaruhi pilihan intervensi.
4.    Identifikasi makanan yang disukai.    Jika makanan yang disukai dapat dimasukkan dalam pencernaan makanan, kerjasama ini dapat diupayakan setelah pulang.
5.    Libatkan keluarga pada perencanaan makan sesuai indikasi.    Memberikan informasi pada keluarga untuk memahami kebutuhan nutrisi pasien.
6.    Kolaborasi dengan ahli diet    Sangat bermanfaat dalam perhitungan dan penyesuaian diet untuk memenuhi kebutuhan pasien.
3.    Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kadar glukosa tinggi, penurunan fungsi lekosit/perubahan sirkulasi.
Data : -
Kriteria hasil : Infeksi tidak terjadi
Intervensi    Rasional
Mandiri
1.    Observasi tanda-tanda infeksi dan peradangan.    Pasien mungkin masuk dengan infeksi yang biasanya telah mencetuskan keadaan ketuasidosis atau infeksi nasokomial.
2.    Tingkatkan upaya pencegahan dengan mencuci tangan bagi semua orang yang berhubungan dengan pasien, meskipun pasien itu sendiri.    Mencegah timbulnya infeksi nasokomial.
3.    Pertahankan teknik aseptik prosedur invasif.    Kadar glukosa tinggi akan menjadi media terbaik bagi pertumbuhan kuman.
4.    Berikan perawatan kulit dengan teratur dan sungguh-sugguh, massage daerah yang tertekan. Jaga kulit tetap kering, linen tetap kering dan kencang.    Sirkulasi perifer bisa terganggu yang menempatkan pasien pada peningkatan resiko terjadinya iritasi kulit dan infeksi.
5.    Bantu pasien melakukan oral higiene.    Menurunkan resiko terjadinya penyakit mulut.
6.    Anjurkan untuk makan dan minum adekuat.    Menurunkan kemungkinan terjadinya infeksi.
7.    Kolaborasi tentang pemberian antibiotik yang sesuai    Penanganan awal dapat membantu mencegah timbulnya sepsis.

DAFTAR PUSTAKA
Doengoes, M.E. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakarta : EGC.
Engram, B. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta : EGC.
Brunner & Suddarth. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Vol. 2. Jakarta : EGC.
Price. S.A. (1995). Patofisiologi, Edisi Kedua, Jakarta : EGC.
Jan Tambayong, dr. (2000). Patofisiologi Untuk Keperawatan. Jakarta : EG

Minggu, 08 Desember 2013

TRIK BERMAIN LIBERTY RESERVE-LR GAMES


LibertyReserve-LR GAMES

Setelah mengisi account Liberty Reserve, gunakan untuk bermain di situs games di bawah ini!
Liberty Reserve game
Add caption
“bermainlah di situs game di atas”
untuk melihat history permainan pada hari ini
silahkan klik disini
CARA BERMAIN DI LibertyReserve/LR GAMES :
1. Pilih Nilai Bet/Amount (jumlah taruhan) sesuai yg anda inginkan (biasanya pilihannya mulai $0,10 s/d $256)
2. Pilih “head” atau pilih “tail”
3. Klik Tombol ‘WIN 210%!’
4. Setelah tombol ‘Double Now!’ di-klik, anda akan masuk pada layar pembayaran Liberty Reserve sesuai nilai bet/amount yg andapilih. Pada browser tertentu, anda harus klik tombol ‘Please wait…Redirecting to Liberty Reserve Payment Processing page…’.
Halaman pertama yg muncul adalah ‘chekout’ yg menjelaskan tujuan pembayaran dan nilainya. Silahkan klik ‘login’ untuk meneruskan.
Selanjutnya pada halaman ke dua, silahkan masukkan no.account Liberty Reserve dan password anda serta isituring number’ ‘ sesuai yg muncul saat itu. Ikuti petunjuk selanjutnya pada halaman ke tiga dan seterusnya sampai selesai proses pembayaran.
5. Setelah proses pembayaran, klik ‘back to merchant’ dan anda akan tahu menang/win atau kalah/loose.

TRIK RAHASIA
Baca point 6 ini secara teliti karena trik rahasianya ada disini
6. Jika menang, anda bisa mulai lagi dg permainan baru sesuai langkah ke-1
Jika kalah, anda lanjutkan permainan TAPI dg Bet/Amount dua kali lipat dibanding saat anda main sebelumnya. Sebagai contoh, jika sebelumnya anda bet/amount dg $1, maka JIKA KALAH anda harus bet dg nilai 2 kali lipatnya menjadi $2.
Dengan begitu, jika menang, anda tetap untung meski tadi sebelumnya kalah!
Hitungannya jika menang, anda dapat 2X$2=$4 dan dikurangi modal yg telah anda ku $1+$2 sehingga masih UNTUNG $1.

KUNCI RAHASIANYA :
== JIKA MASIH DALAM POSISI LOSE/KALAH, LANJUTKAN PERMAINAN DG BET/AMOUNT 2X LIPAT DIBANDING BET SEBELUMNYA DAN JIKA TETAP MASIH POSISI LOSE/KALAH, LIPAT LAGI SAMPAI TERJADI KEMENANGAN. DG TRIK INI ANDA TIDAK AKAN PERNAH “RUGI” WALAU PUN HANYA MENANG 1X DALAM BEBERAPA KALI PERMAINAN ==
7. SETELAH TERJADI KEMENANGAN, ULANGI LAGI PERMAINAN DARI AWAL. LAKUKAN PERMAINAN BERULANG-ULANG UNTUK MERAIH Rp2JUTA/HARI DG MUDAH DAN CEPAT
KESIMPULAN :
Prinsip dasarnya adalah JIKA KALAH, anda harus main dg nilai bet/amount 2 kali lipat dari nilai kekalahan anda sebelumnya dan ini dilakukan terus sampai terjadi kemenangan sehingga walaupun hanya terjadi 1 kali kemenangan dalam beberapa kali permainan, anda TETAP UNTUNG.
CONTOH :
Pertama kali main, anda bertaruh dg nilai $1 dan kalah. Maka pada permainan yg ke-dua, anda harus bertaruh dg nilai $2. Jika masih kalah maka anda harus bertaruh dg nilai $4. Dan jika masih pada posisi KALAH, teruslah bermain dg bertaruh 2X nilai taruhan sebelumnya sampai terjadi kemenangan. Setelah MENANG, anda baru mulai lagi dg taruhan awal anda yaitu $1. ULANGI lagi permainan secara terus menerus AGAR semakin banyak KEUNTUNGAN yg didapat setiap terjadi KEMENANGAN.
Secara praktek, TIDAK PERNAH terjadi 8X terjadi kekalahan terus menerus